Thursday, May 29, 2008

Glodok - Kota

stasiun kota
yang datang biarlah datang
yang kan pergi: jangan sisakan sesal di hati..

di museum bank mandiri
setiap kotak kaca ingin bercerita
dan bingkaibingkai di dinding
tak mau henti bersaksi

betapa absolutnya hari

pedestrian [1]
tokotoko bercat muram
teralis karatan
pelukis jalan menggambar rupa manusia

yang lupa sejarahnya

pedestrian [2]
kakilima o kakilima
kapan kau henti mencipta dilema?

glodok [1]
krumunan, kramaian
tibatiba rindu seseorang

seandainya dia serta

glodok [2]
barongsai dan jiwajiwa merdeka
tari naga dan hatihati kembara

genderang bertalu membahana

lorong pecinan glodok
wewangi nan anyir
hitam pekat saluran air

dan glodok sempurna menjelma paradoks

jin de juan [1]
hio dan dupa
doa dan harapan
dewa dan malaikat

dimana Tuhan?

jin de juan [2]
tangan tengadah berjajar
wajahwajah kusam menunggu uluran

kemiskinan: asap hitam api keserakahan

duduk di bangku santa maria de fatima [1]
kakikaki melangkah pergi
bangkubangku terngungun

kerdip nyala lilin
dan Seorang yang sendiri terpancang
di dinding

duduk di bangku santa maria de fatima [2]
ada sosok dimuliakan
diabadikan dalam kidungkidung

ada sosok tersepikan
mematung di ujung


menyusuri perniagaan
rumah toko dan jalan gersang
berkisah tentang uang yang pergi dan datang

pasar pagi
mungkin kami terlalu siang
pasar telah sepi: kemana mbak berkerudung ungu tadi?

jembatan angke
angin kecilkecil
pekat muka air

bawah pohon sebelah jembatan: andai kubisa bicara dengan gadis cantik baju hitam

kota lama [1]
lampulampu tua
gedunggedung renta

seperti kita yang fana

kota lama [2]
menikmati sepi pedestrian
bertanyatanya: sedang apa kau di sana?

kota lama [3]
kucuri potonganmu lewat indera
tapi tak sungguh mau kusimpan

telah penuh di sana dengan sebuah nama

kota lama [4]
ada kemarin
datang sekarang
ada yang lalu
lahir yang baru

adakah itu dia?

museum jakarta
saturasi perjalanan
kaki lunglai dilangkahkan

biarkan ku rehat: dari panas kota ini, dan
pikiran tentangmu

titik akhir: museum bank mandiri
catatan hari ini biarlah kubawa pulang
sertalah denganku, kali lain?

Di Kebun Raya

I
seperti menziarahi kampung kelahiran
dedaun, rumput, burung dan riuh serangga
hati kembara:
masih ada hijau di merah kota

II
seperti ziarah pada masa lalu
sungai dan jembatan gantung membatu
pohon dan perdu:
kapan kembali hutanku

III
seperti ziarah di makam sendiri
sebentar lagi bumi akan mati...

Wednesday, May 28, 2008

Rio

: berharap untuk kesembuhanmu

aku tak mau engkau menyalahkan waktu
mengalah pada takdir yang memaksamu terkapar di permenunganmu
selalu ada ujung
yang memutuskan segala duka menggantung

aku tak mau engkau menyerah, kawan

basi untukmu surut melangkah
takdirmu terjadi sudah
lingkaran hidup terus laju
tiada kata selain maju

aku ingin engkau tak pasrah, sobat

hidupmu memang tak sedap dirasa
menyesak di raga
tapi engkau punya seribu malaikat
seribu kebaikan terpanjat

bro,
engkau tak sendirian memendam luka
bersama darah kami mengalir sejuta doa..




Wednesday, December 05, 2007

Peta pun Terbentang

Semoga Allah menghimpun yang terserak dari keduanya, memberkahi mereka berdua, meningkatkan kualitas keturunan mereka, menjadikan pembuka pintu-pintu rahmat, sumber ilmu dan hikmah serta pemberi rasa aman bagi umat.
(Do’a Nabi Muhammad SAW pada pernikahan Fatimah Azzahra dengan Ali bin Abi Thalib)

***
Bismillaahirrahmaanirrahiim,
Assalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatu,

Dengan mengharap barakah & rahmat Allah SWT, kami bermaksud melangsungkan pernikahan pada:

Minggu, 16 Desember 2007
di Gedung Pertemuan PG Pesantren
Jln Kampung Cemara Kediri.

akad : pukul 08.00
resepsi pukul 11.00 - 13.00

Besar harapan agar teman-teman semua dapat hadir untuk memberikan do'a restu.
Terima kasih.

Kami yang berbahagia:
Ahmad Saiful Huda (Ipung) & Ludvi Mayasari (Ludvi)

***
Jangan dikira cinta datang dari keakraban yang lama dan karena pendekatan yang tekun.
Cinta adalah kecocokan jiwa dan jika itu tidak pernah ada, cinta tak akan pernah tercipta dalam hitungan tahun bahkan abad.
(Kahlil Gibran - Atas Nama Cinta)




Thursday, November 01, 2007

Smaradhana

ulurkan tanganmu untuk kucium
dan biarkan burung dari seribu pohon bernyanyi:
"barakallaahu...*"

lalu dunia tak lebih dari sehelai dedaun bagi kita
waktu, hanya desau angin di beranda
asalkan bersama, awan menjelma pelangi nan rupawan

engkau dengar alun gending itu?
seperti hidup kita, mengalun indah dalam irama
lupakan kesumat, sedih dan sunyi di kalbu
asalkan bersama, badai hanyalah riak air belaka

dengarkan doa puji pujian itu
semua memanjatkan kebahagian dan keberkahan
semesta memintakan keselamatan dan keabadian

kau dengar degup jantungku?
semakin kencang berdetak, tak sabar menciup lembut keningmu...


*barakallaahu laka wa baraka 'alayka wa jama'a baynakuma fii khoiir